Senin, 02 November 2009

Jumat, 15 Mei 2009

Assallamualaikum...
alhamdulillah MAJLIS AR-RAUDHAH udah berjalan kurang lebih 2thn an.
Yang mana acara rutin nya di adakan pada malam senin,yg di mulai dgn pembacaan surah yasin dan maulid shalawat burdah karangan IMAM BUSIRY.
Dan di lanjutkan dgn pengajian kitab "obat penawar hati"yg di bacakan oleh guru besar kami yaitu KH.GURU KHALID(AMUNTAI).
Rata-rata yg berhadir di majlis ini kebanyakan nya kalangan kaula muda.
Begitu banyak sekali fadhilat membaca shalawat.Ini ada beberapa fadhilat shalawat burdah karangan IMAM BUSIRY:

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 1


Cinta Sang Kekasih

Apakah karena Mengingat Para kekasih di Dzi Salam.
Kau campurkan air mata di pipimu dengan darah.

Ataukah karena angin berhembus dari arah Kazhimah.
Dan kilat berkilau di lembah Idlam dalam gulita malam.

Mengapa bila kau tahan air matamu ia tetap basah.
Mengapa bila kau sadarkan hatimu ia tetap gelisah.

Apakah sang kekasih kira bahwa tersembunyi cintanya.
Diantara air mata yang mengucur dan hati yang bergelora.

Jika bukan karena cinta takkan kautangisi puing rumahnya.
Takkan kau bergadang untuk ingat pohon Ban dan ‘Alam.

Dapatkah kau pungkiri cinta, sedang air mata dan derita.
Telah bersaksi atas cintamu dengan jujur tanpa dusta.

Kesedihanmu timbulkan dua garis tangis dan kurus lemah.
Bagaikan bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah.

Memang terlintas dirinya dalam mimpi hingga kuterjaga.
Tak hentinya cinta merindangi kenikmatan dengan derita.

Maafku untukmu wahai para pencaci gelora cintaku.
Seandainya kau bersikap adil takkan kau cela aku.

Kini kau tahu keadaanku, pendusta pun tahu rahasiaku.
Padahal tidakjuga kunjung sembuh penyakitku.

Begitu tulus nasihatmu tapi tak kudengar semuanya.
Karena untuk para pencaci, sang pecinta tuli telinganya.

Aku kira ubanku pun turut mencelaku.
Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku.


SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 2

Peringatan akan Bahaya Hawa Nafsu

Sungguh hawa nafsuku tetap bebal tak tersadarkan.
Sebab tak mau tahu peringatan uban dan kerentaan.

Tidak pula bersiap dengan amal baik untuk menjamu.
Sang uban yang bertamu di kepalaku tanpa malu-malu.

Jika kutahu ku tak menghormati uban yang bertamu.
Kan kusembunyikan dengan semir rahasia ketuaanku itu.

Siapakah yang mengembalikan nafsuku dari kesesatan.
Sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang.

Jangan kau tundukkan nafsumu dengan maksiat.
Sebab makanan justru perkuat nafsu si rakus pelahap.

Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu.
Bila kau sapih ia akan tinggalkan menyusu itu.

Maka kendalikan nafsumu, jangan biarkan ia berkuasa.
Jika kuasa ia akan membunuhmu dan membuatmu cela

Gembalakanlah ia, ia bagai ternak dalam amal budi.
Janganlah kau giring ke ladang yang ia sukai.

Kerap ia goda manusia dengan kelezatan yang mematikan.
Tanpa ia tahu racun justru ada dalam lezatnya makanan.

Kumohon ampunan Allah karena bicara tanpa berbuat.
Kusamakan itu dengan keturunan bagi orang mandul.

Kuperintahkan engkau suatu kebaikan yang tak kulakukan.
Tidak lurus diriku maka tak guna kusuruh kau lurus.

Aku tak berbekal untuk matiku dengan ibadah sunnah.
Tiada aku dan puasa kecuali hanya yang wajib saja.

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 3

Pujian Kepada Nabi SAW

Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam.
Beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram.

Nabi yang karena lapar mengikat pusarnya dengan batu.
Dan dengan batu mengganjal Perutnya yang halus itu.

Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya.
la tolak permintaan itu dengan perasaan bangga.

Butuh harta namun menolak, maka tambah kezuhudannya.
Kendati butuh pada harta tidaklah merusak kesuciannya.

Bagaimana mungkin Nabi butuh pada dunia.
Padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada.

Muhammadlah pemimpin dunia akherat.
Pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan non Arab.

Nabilah pengatur kebaikan pencegah mungkar.
Tak satu pun setegas ia dalam berkata ya atau tidak.

Dialah kekasih Allah yang syafa’atnya diharap.
Dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap.

Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus.
Mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus.

Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa.
Tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliaannya.

Para Nabi semua meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.

Para Rasul sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.

Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia.

Dalam kebaikanya, tak seorang pun menyaingi.
Inti keindahannya takkan bisa terbagi-bagi.

Jauhkan baginya yang dikatakan Nasrani pada Nabinya.
Tetapkan bagi Muhammad pujian apapun kau suka.

Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu.
Dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mau.

Karena keutamaannya sungguh tak terbatas.
Hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata.

Jika mukjizatnya menyamai keagungan dirinya.
Niscaya hiduplah tulang belulang dengan disebut namanya.

Tak pernah ia uji kita dengan yang tak diterima akal.
Dari sangat cintanya, hingga tiada kita ragu dan bimbang.

Seluruh mahluk sulit memahami hakikat Nabi.
Dari dekat atau jauh, tak satu pun yang mengerti.

Bagaikan matahari yang tampak kecil dari kejauhan.
Padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan.

Bagaimana seseorang dapat ketahui hakikat Sang Nabi
Padahal ia sudah puas bertemu dengannya dalam mimpi

Puncak Pengetahuan tentangnya ialah bahwa ia manusia
Dan ia adalah sebaik baik seluruh ciptaan Allah

Segala mukjizat para Rasul mulia sebelumnya
Hanyalah pancaran dari cahayanya kepada mereka

Dia matahari keutamaan dan para Nabi bintangnya
Bintang hanya pantulkan sinar mentari menerangi gulita

Alangkah mulia paras Nabi yang dihiasi pekerti
Yang memiliki keindahan dan bercirikan wajah berseri

Kemegahannya bak bunga, kemuliaannya bak purnama
Kedermawanannya bak lautan, kegairahannya bak sang waktu

la bagaikan dan memang tiada taranya dalam keagungan
Ketika berada di sekitar pembantunya dan di tengah pasukan

Bagai mutiara yang tersimpan dalam kerangnya
Dari kedua sumber, yaitu ucapan dan senyumannya

Tiada keharuman melebihi tanah yang mengubur jasadnya
Beruntung orang yang menghirup dan mencium tanahnya

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 4

KELAHIRAN SANG NABI MUHAMMAD SAW

Kelahiran Sang Nabi menunjukkan kesucian dirinya
Alangkah eloknya permulaan dan penghabisannya

Lahir saat bangsa Persia berfirasat dan merasa
Peringatan akan datangnya bencana dan angkara murka

Dimalam gulita singgasana kaisar Persia hancur terbelah
Sebagaimana kesatuan para sahabat kaisar yang terpecah

Karena kesedihan yang sangat, api sesembahan padam
Sungai Eufrat pun tak mengalir dari duka yang dalam

Penduduk negeri sawah bersedih saat kering danaunya
Pengambil air kembali dengan kecewa ketika dahaga

Seakan sejuknya air terdapat dalam jilatan api
Seakan panasnya api terdapat dalam air, karena sedih tak terperi

Para jin berteriak sedang cahaya terang memancar
Kebenaran pun tampak dari makna kitab suci maupun terujar

Mereka buta dan tuli hingga kabar gembira tak didengarkan
Datangnya peringatan pun tak mereka hiraukan

Setelah para dukun memberi tahu mereka
Agama mereka yang sesat takkan bertahan lama

Setelah mereka saksikan kilatan api yang jatuh dilangit
Seiring dengan runtuhnya semua berhala dimuka bumi

Hingga lenyap dan pintu langitNya
Satu demi satu syetan lari tunggang langgang tak berdaya

Mereka berlarian laksana lasykar Raja Abrahah
Atau bak pasukan yang dihujani kerikil oleh tangan Rasul

Batu yang Nabi lempar sesudah bertasbih digenggamannya
Bagaikan terlemparnya Nabi Yunus dan perut ikan paus.

DAH ALBUSHIRY’

SYAIR BURDAH ALBUSHIRI 5

MUKZIJAT NABI MUHAMMAD SAW

Pohon-pohon mendatangi seruannya dengan ketundukkan
Berjalan dengan batangnya dengan lurus dan sopan

Seakan batangnya torehkan sebuah tulisan
Tulisan yang indah di tengah-tengah jalan

Seperti juga awan gemawan yang mengikuti Nabi
Berjalan melindunginya dari sengatan panas siang hari

Aku bersumpah demi Allah pencipta rembulan
Sungguh hati Nabi bagai bulan dalam keterbelahan

Gua Tsur penuh kebaikan dan kemuliaan. Sebab Nabi
dan Abu Bakar di dalamnya, kaum kafir tak lihat mereka

Nabi dan Abu Bakar Shiddiq aman didalamnya tak cedera
Kaum kafir mengatakan tak seorang pun didalam gua

Mereka mengira merpati takkan berputar diatasnya
Dan laba laba takkan buat sarang jika Nabi didalamnya

Perlindungan Allah tak memerlukan berlapis baju besi
Juga tidak memerlukan benteng yang kokoh dan tinggi

Tiada satu pun menyakiti diriku, lalu kumohon bantuan Nabi
Niscaya kudapat pertolongannya tanpa sedikit pun disakiti

Tidaklah kucari kekayaan dunia akhirat dari kemurahannya
Melainkan kuperoleh sebaikbaik pemberiannya

Janganlah kau pungkiri wahyu yang diraihnya lewat mimpi
Karena hatinya tetap terjaga meski dua matanya tidur terlena

Demikian itu tatkala sampai masa kenabiannya
Karenanya tidaklah diingkari masa mengalami mimpinya

Maha suci Allah, wahyu tidaklah bisa dicari
Dan tidaklah seorang Nabi dalam berita gaibnya dicurigai

Kerap sentuhannya sembuhkan penyakit
Dan lepaskan orang yang berhajat dari temali kegilaan

Doanya menyuburkan tahun kekeringan dan kelaparan
Bagai titik putih di masa-masa hitam kelam

Dengan awan yang curahkan hujan berlimpah
Atau kau kira itu air yang mengalir dari laut atau lembah

Jadwal haul
Jadwal Haul PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator
Friday, 03 October 2008
No
Nama Habaib
Bulan
Tempat
1
Al-Habib Hasan Bin Muhammad Al-Hadad
Shafar Minggu Terakhir
Kota, Jakarta Utara
2
Al-Habib Abdul Qadir Bin Alwi Assegaf
Rabiul Awal, Minggu Pertama
Tuban
3
Al-Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Bilfaqih
Jumadil Akhir, Minggu Terakhir
Alun-alun, Malang
4
Al-Habib Abdullah Bin Abdul Qodir Bilfaqih
Jumadil Akhir, Minggu Terakhir
Alun-alun, Malang
5
Al-Habib Abdullah Bin Ali Al-Haddad
27 Shafar
Bangil, Pasuruan
6
Al-Habib Abdullah Bin Muchsin Al-Atthas
Rabiul Awal, Rabu Terakhir
Empang, Bogor
7
Al-Habib Abubakar Bin Husein Assegaf
27 Muharram
Bangil, Pasuruan
8
Al-Habib Abubakar Bin Syofi Al-Habsyi
22 Rabiul Tsani
Ampel, Surabaya
9
Al-Habib Ahmad Al-Haddad
Rabiul Awal
Kalibata, Jakarta Selatan
10
Al-Habib Ahmad Bin Abdullah Al-Aydrus
Jumadil Akhir, Minggu Pertama
Benhil, Jakarta Pusat
11
Al-Habib Ali Bin Abdulrahman Al-Habsyi
Rabiul Awal, Rabu Terakhir
Kwitang, Jakarta Pusat
12
Al-Habib Ali Bin Husein Al-Atthas
Rabiul Awal, Selasa Terakhir
Buluh Condet , Jakarta
13
Al-Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsyi (Simthuduror)
20 Rabiul Tsani
Gurawan, Solo
14
Al-Habib Alwi Bin Salim Al-Aydrus
23 Rabiul Tsani
Tanjung, Malang
15
Al-Habib Hadi Bin Abdullah Al-Haddar
Minggu, 1 Muharram
Lateng, Banyuwangi
16
Al-Habib Husein Bin Hadi Al-Hamid
12 Shafar
Brani, Probolinggo
17
Al-Habib Husein Bin Muhammad Al-Haddad
Jumadil Akhir, Sabtu Ketiga
Ampel, Surabaya
18
Al-Habib Idrus Bin Abubakar Al-Habsyi
22 Rabiul Tsani
Ampel, Surabaya
19
Al-Habib Ja’far Bin Syekhon Assegaf
Jumadil Akhir, Minggu Ketiga
Masjid Jami’, Pasuruan
20
Al-Habib Muchsin Bin Muhammad Al-Atthas
Rabiul Awal, Sabtu Pagi
Alhawi Condet, Jakarta
21
Al-Habib Muhammad Bin Husein Al-Aydrus
Jumadil Awal, Kamis Terakhir
Ketapang Kecil, Surabaya
22
Al-Habib Muhammad Bin Idrul Al-Habsyi
22 Rabiul Tsani
Ampel, Surabaya
23
Al-Habib Muhammad Bin Thohir Ba’bud
Rajab, Minggu Pertama
Ds.Paleng Ploso, Kediri
24
Al-Habib Muhdor Bin Muhammad Al-Muhdor
29 Rajab
Bondowoso
25
Al-Habib Salim Bin Ahmad Bin Zindan
Rabiul Awal, Senin Sore
Otista, Jakarta Timur
26
Al-Habib Syeh Bin Salim Al-Atthas
27 Rajab
Tipar, Sukabumi
27
Al-Habib Umar Bin Abdulrahman Al-Atthas
23 Rabiul Tsani
Petamburan, Jakarta
28
Al-Habib Umar Bin Hud Al-Atthas
29 Rabiul Tsani
Cipayung, Jawa Barat
29
AlHabib Muhammad Bin Ahmad Al-Muhdhor
22 Rabiul Tsani
Ampel, Surabaya
30
Fakhrul Wujud Syekh Abubakar Bin Syalim
Muharram
Cidodol, Jakarta Selatan

Jumat, 01 Mei 2009

Manakib Al-Imam Ali Shahibud-Dark PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator
Sunday, 19 October 2008

Manakib Al-Imam Ali Shahibud-Dark

Beliau adalah seorang waliyullah yang lahir di Tarim, Hadramaut, beliau ulama besar yang menafikan kehidupan dunia, waktunya lebih banyak dimanfaatkan untuk menyendiri (khalwat) dan hidup sebagai seorang zahid, seperti ulama-ulama besar lainnya beliau juga sering berziarah kemaqam Nabi Hud as di bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan, tiada lain untuk menambah kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT, selama berkhalwat ibadah yang paling beliau tunaikan adalah memperbanyak amal kebajikan, terutama shalat sunnah dan wirid.

Imam Ali Shahibud-Dark atau Imam Ali bin Alwi Al-Ghuyur bin Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa dan seterusnya, nasabnya bersambung sampai Rasulullah SAW, beliau di juluki Shahibud-Dark karena suka membantu dan menolong sesama.

Beliau juga dikenal sebagai guru besar bagi para ulama di Hadramaut, sehingga menjadi seorang wali yang mahbub, dicintai Allah. Beliau juga termasuk seorang waliyullah dengan posisi ‘Arif Billah dan Quthub, sosok keteladanan bagi para murudin (pengikut tarekat) dan ‘arifin (para ulama dan cendikiawan).

Sejak kanak-kanak beliau mendapat pendidikan agama dari ayahandanya, Syaikh Alwi Al-Ghuyur dan pada usia sembilan tahun sudah hafal Al-Qur’an, beliau juga sempat mengaji kepada kakeknya Al-Faqih Al-Muqaddam. Dari ayahanda dan kakeknya beliau mendapat banyak keutaman terutama ilmu hikmah dan tasawuf, setelah dewasa wajah dan pandangan matanya sejuk. Salah satu karamahnya ialah firasat yang tajam dan doanya yang mustajab.

Di usia dewasa ketika menunaikan ibadah haji terlihat berbagai karamah dan keutamaan-keutamaannya. Saat berangkat ke Makkah beliau banyak ditemani kawan-kawannya yang selalu minta di doakan. Dan setiap doanya makbul, sehingga kawan-kawannya selalu mengikutinya. Di tanah suci beliau berdoa agar diberikan seorang anak yang sholeh padahal ketika itu beliau belum menikah. Setelah itu keluar suara ghaib, “doamu telah dikabulkan oleh Allah, maka kembalilah ke negerimu!”.

Beliau pun langsung pulang ke Tarim, namun tak langsung menikah, hingga suatu ketika beliau berdoa di sebuah Masjid di tarim. Saat itulah beliau hanyut dalam doa dan ruhnya terasa membumbung naik kelangit. Pada kondisi kekhusu’an dan kefanaan itulah beliau mendapat kabar gembira akan dikaruniai seorang anak shalih.

“Saya ingin melihat tanda-tandanya,” katanya dalam hati, seketika itu juga beliau mendapat dua kertas dan terdengarlah suara ghaib, “taruhlah salah satu kertas itu di atas mata seorang wanita di dekatmu, maka beliau akan segera dapat melihat”. Benar ternyata di dekatnya ada seorang wanita buta, beliau lalu menaruh salah satu kertas itu di atas matanya dan spontan wanita itu dapat melihat kembali, beliaupun kemudian menikah dengan wanita tersebut dan memperoleh seorang anak yang shalih yang bernama Muhammad Mawla Dawilah.

Suatu ketika beliau mendapat harta cukup banyak, tapi kemudian berdoa kepada Allah,”Ali bin Alwi dan dunia. Ya Allah jauhkan aku daripadanya, jauhkan dunia dariku.” Tiga bulan setelah itu tepat pada 9 Rajab 709 H/1289 M, beliau wafat dan jenazahnya dimakamkan di makam Zanbal, Tarim, Hadramaut. Beliau meninggalkan seorang putra Muhammad Mawla Dawilah dan enam putri : Maryam, Khadijah, Zainab, Aisyah, Bahiyah, dan Maniyah dari seorang ibu Sayyidah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath.

Suatu hari seorang ulama terkemuka dari Tarim, syaikh Ibrahim bin Abu Qusyair, menceritakan suatu malam pernah bermimpi berjumpa syaikh Ali bin Alwi . lalu beliau bertanya , “bagaimana Allah memperlakukanmu?” dalam mimpi itu syaikh Ali Bin Alwi menjawab : suatu apa pun tak dapat membahayakan orang yang mahbub (dicintai Allah),”.

mudah-mudahan dengan manaqib wali allah ta"ala ini kita semua mendapatkan berokah....

Assalamu'alaikum Wr.Wb. Mari kita pertebal iman islam kita dengan 'ilmu yang bermanfa'at bagi kita semua.Dan tentunya 'ilmu yang bermanfa'at itu haruslah sesuai dengan tuntunan syari'at Islam & juga sesuai dengan dua sumber daulatul-Islam yaitu :"AL-QUR'AN & AS-SUNNAH" Insya Alloh Ta'ala,kami harapkan nantinya group/forum ini dapat mendatangkan manfa'at bagi kita semua,yang dalam arti bukan sekedar u/ bersilaturrahim saja,tapi juga dapat menambah cakrawala 'ilmu kita. forum ini terbuka u/ anda semua yang berada di muka bumi ini! Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Selasa, 28 April 2009

10- {Fadhilah Burdah}

Burdah artinya mantel dan juga dikenal sebagai Bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan). Imam Busyiri adalah seorang penyair yang suka memuji raja-raja untuk mendapatkan uang. Kemudian beliau tertimpa sakit faalij (setengah lumpuh) yang tak kunjung sembuh setelah berobat ke dokter manapun.

Tak lama kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah S.A.W. yang memerintahkannya untuk menyusun syair yang memuji Rasulullah. Maka beliau mengarang Burdah dalam 10 pasal pada tahun 6-7 H. Seusai menyusun Burdah, beliau kembali mimpi bertemu Rasulullah yang menyelimutinya dengan Burdah (mantel). Ketika bangun, sembuhlah beliau dari sakit lumpuh yang dideritanya.

Qoshidah Burdah ini tersebar ke seluruh penjuru bumi dari timur ke barat. Bahkan disyarahkan oleh sekitar 20 ulama, diantaranya yang terkenal adalah Imam Syaburkhiti dan Imam Baijuri.

Habib Husein bin Mohammad Alhabsyi (saudara Habib Ali Alhabsyi sohibul maulid Simtud Duror) biasa memimpin Dalail Khoiroot di Mekkah. Kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah yang memerintahkannya untuk membaca Burdah di majlis tersebut. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah berkata bahwa membaca Burdah sekali lebih afdol daripada membaca Dalail Khoiroot 70 kali.

Ketika Hadramaut tertimpa paceklik hingga banyak binatang buas berkeliaran di jalan, Habib Abdulrahman Al Masyhur memerintahkan setiap rumah untuk membaca Burdah. Alhamdulillah, rumah-rumah mereka aman dari gangguan binatang buas.

Beberapa Syu’araa (penyair) di zaman itu sempat mengkritik bahwa tidaklah pantas pujian kepada Rasulullah dalam bait-bait Burdah tersebut diakhiri dengan kasroh/khofadz. Padalah Rasulullah agung dan tinggi (rofa’). Kemudian Imam Busyiri menyusun qoshidah yang bernama Humaziyyah yang bait-baitnya berakhir dengan dhommah (marfu’).

Imam Busyiri juga menyusun Qoshidah Mudhooriyah. Pada qoshidah tersebut terdapat bait yang artinya, ‘Aku bersholawat kepada Rasulullah sebanyak jumlah hewan dan tumbuhan yang diciptakan Allah.’ Kemudian dalam mimpinya, beliau melihat Rasulullah berkata bahwa sesungguhnya malaikat tak mampu menulis pahala sholawat yang dibaca tersebut.

Habib Salim juga bercerita tentang seseorang yang telah berjanji kepada dirinya untuk menyusun syair hanya untuk memuji Allah dan Rasulullah. Suatu ketika ia tidak mempunyai uang dan terpaksa menyusun syair untuk memuji raja-raja agar mendapat uang. Ia pun mimpi Rasulullah berkata, “Bukankah engkau telah berjanji hanya memuji Allah dan Rasul-Nya?! Aku akan memotong tanganmu…”

Kemudian datanglah Sayidina Abubakar r.a. meminta syafaat untuknya dan dikabulkan oleh Rasulullah. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia pun langsung bertobat. Kemudian ia melihat di tangannya terdapat tanda bekas potongan dan keluar cahaya dari situ.

Habib Salim mengatakan bahwa Burdah ini sangat mujarab untuk mengabulkan hajat-hajat kita dengan izin Allah. Namun terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi. Yaitu mempunyai sanad ke Imam Busyiri, mengulangi bait ‘maula ya solli wa sallim…’, berwudhu, menghadap kiblat, memahami makna bait-bait, dibaca dengan himmah yang besar, beradab, memakai wewangian.

Khusus tentang memakai wewangian ini, Habib Salim mengatakan, ‘Tidak seperti orang sekarang, membaca Burdah namun badannya bau rokok. Padahal salaf telah sepakat untuk mengharamkan rokok.’

Di akhir ceramah beliau, Habib Salim menyampaikan bahwa jika seseorang tidak berjalan di thoriqoh aslaf maka dikhawatirkan tiga hal. Pertama, umurnya pendek. Kedua, Hidup dalam keadaan bingung/akalnya gila. Ketiga, tak akan dihargai masyarakat.

(Disampaikan di Majlis Burdah Hb Syekh Alaydrus Jl. Ketapang Kecil Surabaya)

Adab di MAJLIS para sholihin

Adab Di Majlis Para Sholihin

Berkata sayyidina Al-Habib Muhammad bin Hadi Assaggaf pada malam Rabu, 15 Rajab 1346 H: “Jika kamu sekalian hadir di suatu majlis dan di majlis itu dihadiri oleh salah seorang sholihin, maka jagalah adab. Dan jadilah kamu seperti orang mati di hadapan orang yang akan memandikannya, agar engkau tidak tercegah dari mendapatkan kebajikan dan berkah.
Diceritakan bahwa suatu saat ada majlis di rumah Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr yang dihadiri oleh para ulama besar dari Alawiyyin seperti Al-Habib Abdullah bin Husin Bin Thohir, Al-Habib Abdullah bin Husin Bilfagih dan Al-Habib Abdullah bin Umar Bin Yahya. Pada saat itu timbul suatu permasalahan ilmiyyah dan fiqhiyyah. Masing-masing orang mengeluarkan pendapatnya sampai terjadi khilaf dan perdebatan di antara mereka. Kecuali Al-Habib Abdullah bin Husin Bilfaqih yang terdiam tidak mengucap satu kalimat pun disebabkan menghormati majlis tersebut.
Setelah selesai majlis dan yang hadir sudah keluar semua, seseorang mendatangi Al-Habib Abdullah bin Husin Bilfaqih sambil mencelanya dan berkata, "Kenapa anda diam saja di majlis itu sedangkan saat itu terjadi perbincangan mengenai masalah fiqhiyyah dan ilmiyyah?" Beliau pun menjawab, "Sesungguhnya di majlis tadi tercurahkan asraar, anwaar dan istimdaad, khairaat dan barokaat, bukanlah suatu majlis khilafiyah dan perdebatan. Kalau engkau ingin tahu pendapatku tentang masalah tadi maka berkumpullah kamu sekalian dan akan aku jelaskan dalil-dalil dan ta'lil, kesalahan dan kebenaran. Sesungguhnya majlis di tempat Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr tidak sebaiknya engkau men-taqrir suatu masalah. Akan tetapi yang baik adalah taaddub (beradab).